Home BudayaPetis Udang Paser: 9 Rahasia Kaldu Kepala Udang Gula Aren dan Legenda Cirebon yang Meleset 2026

Petis Udang Paser: 9 Rahasia Kaldu Kepala Udang Gula Aren dan Legenda Cirebon yang Meleset 2026

by adminkumbaya

Petis udang Paser adalah bumbu hitam kental dari Kabupaten Paser di selatan Kalimantan Timur, dimasak dari kaldu kepala udang, gula aren, garam, dan sedikit penyedap sampai menjadi pasta manis beraroma laut. Pemerintah pusat menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016. Tetapi halaman yang menceritakan asal-usulnya memuat beberapa klaim yang saling bertabrakan.

Petis udang Paser: pasta petis hitam kental khas Indonesia dari kaldu udang
Petis, pasta hitam kental dari kaldu udang atau ikan yang dimasak sampai pekat (foto: Wikimedia Commons)

Saya membaca halaman itu bersama halaman Petis, Terasi, Kecap ikan, Kota Cirebon, Suku Paser, dan Suku Bajau di Wikipedia bahasa Indonesia, lalu mencocokkannya dengan 74 judul video yang saya kumpulkan. Hasilnya: legenda Cirebon abad ke-14 yang tidak cocok dengan kalender, leluhur Bajo yang tidak muncul di halaman suku Paser, dan tak satu pun judul video yang menyebut nama Paser. Kita bahas semuanya, lengkap dengan cara membuat petis di rumah.

Daftar Isi

Kenalan Dulu Dengan Sosok Petis Udang Paser

Petis adalah komponen masakan Indonesia yang dibuat dari sisa pengolahan makanan berkuah, biasanya pindang ikan, kupang, atau udang, yang dipanaskan sampai kuahnya kental seperti saus pekat. Versi Paser memakai kepala udang. Sebelum masuk ke perdebatan asal-usul, mari lihat dulu apa yang ditulis halaman rujukannya secara harfiah.

Apa Saja Kata Halaman Rujukan Itu

Halaman itu menyebut petis ini makanan khas Kabupaten Paser yang terbuat dari olahan kepala udang, gula jawa, dan bumbu penyedap. Rasanya manis dengan aroma kuat, dibuat dari kaldu kepala udang yang direbus lalu dikentalkan. Fungsinya ganda: bahan masakan atau camilan, dan bisa ditemukan di pasar tradisional di Paser. Halaman itu tidak memuat satu pun angka takaran.

Warna Rasa Tekstur Petis Udang Paser

Halaman Petis menulis bahwa petis biasanya ditambah karamel gula batok, sehingga warnanya cokelat cenderung hitam dan rasanya manis. Versi kepala udang menambahkan aroma laut yang tajam dan gurih. Teksturnya kental mendekati pasta, dipakai sedikit-sedikit sebagai penyedap, bukan disendok banyak seperti sambal.

Empat Klaim Saling Bertabrakan Petis Udang Paser

Saya menemukan empat titik di halaman rujukan yang tidak cocok dengan halaman lain di Wikipedia yang sama. Titik pertama soal bahan, kedua soal gula, ketiga soal legenda Cirebon, keempat soal leluhur Bajo. Tidak satu pun berarti petisnya palsu. Justru di situlah ceritanya menarik.

Klaim Pertama Soal Bahan Utama Udang

Bagian Bahan pembuatan menulis petis terbuat dari udang kecil yang dikenal sebagai rebon. Beberapa paragraf kemudian, bagian asal-usul menyebut bahan utamanya kepala udang. Dua bahan itu tidak sama: rebon adalah udang utuh berukuran sangat kecil, sedangkan kepala adalah sisa dari udang yang lebih besar setelah dikupas.

Tiga Klaim Lain Yang Perlu Dicek

Klaim kedua menyebut gula jawa di paragraf pembuka tetapi gula merah dari aren pada cara pembuatan. Klaim ketiga menempatkan Cakrabuana sebagai raja Padjajaran pada abad ke-14. Klaim keempat menyebut leluhur orang Paser berasal dari suku laut Bajo. Setiap klaim saya periksa satu per satu di bagian berikutnya.

Rebon Atau Kepala Udang Petis Udang Paser

Penjual kepala udang goreng di Bangladesh, ilustrasi kepala udang bahan petis udang Paser
Penjual kepala udang goreng di Chittagong, Bangladesh: kepala udang dimakan di banyak tempat (foto: Wikimedia Commons)

Halaman Udang rebon hanya berisi tiga kalimat dan daftar 14 spesies genus Acetes, tetapi cukup untuk satu fakta: rebon adalah udang kecil yang hidup di perairan Asia Tenggara. Rebon lazim dijadikan terasi. Kepala udang, sebaliknya, adalah bagian yang biasanya dibuang saat udang besar dikupas.

Kepala Udang Dulu Dianggap Limbah Biasa

Video Lelii Mangunsong pada 19 Agustus 2022 mengajak penonton berhenti membuang kepala udang dan memakai kepala dari 1 kg udang untuk membuat petis. Logika dapurnya sederhana: bagian yang biasanya masuk tempat sampah ternyata menyimpan rasa. Halaman rujukan pun menulis bahwa petis ini lahir dari pemanfaatan kepala udang untuk diambil kaldunya dengan cara direbus.

Cangkang Kitin Yang Tidak Ikut Termakan

Halaman Kitin menulis bahwa kitin adalah polisakarida struktural penyusun eksoskeleton artropoda, termasuk krustasea, dengan serat mirip selulosa yang tidak dapat dicerna vertebrata. Itu sebabnya resep petis selalu menyaring kaldu dan membuang sisa kepala. Yang berpindah ke petis hanya cairan dan zat larut di dalamnya, sedangkan cangkangnya tinggal di saringan.

Manis Dari Nira Enau Petis Udang Paser

Gula aren cetak, pemanis utama petis udang Paser
Gula aren yang sudah jadi, bahan manis dan pengawet pada petis (foto: Wikimedia Commons)

Paragraf pembuka halaman rujukan menulis gula jawa, sedangkan bagian cara pembuatan menulis gula merah dari aren. Dalam praktik keduanya mengarah ke hal serupa: halaman Gula aren memuat gula merah sebagai bagian yang sama, dibuat dari nira tandan bunga jantan pohon enau. Jadi ini lebih soal ejaan daripada dua bahan berbeda.

Nira Enau Dimasak Di Atas Tungku

Menurut halaman Gula aren, bunga jantan enau ditampung dalam bumbung bambu dan diberi laru atau kawao supaya nira tidak menjadi ragi. Nira lalu direbus di wajan besar, paling baik dengan kayu aren tua. Kalau api menjilat gula, rasanya pahit dan warnanya hitam. Gula sudah jadi bila adukan pekat, berat, dan membentuk benang di air dingin.

Manis Gula Pengawet Petis Udang Kaltim

Gula pada petis punya dua tugas. Ia mengubah kaldu yang asin dan amis menjadi manis gurih, dan ia ikut mengawetkan karena gula berkadar tinggi menahan air. Halaman Gula aren mencatat gula merah banyak dipakai untuk kecap manis dan jamu. Gula aren yang diaduk berjam-jam juga menjadi bintang di Dodol Kandangan dari Kalimantan Selatan.

Dua Jam Merebus Kaldu Petis Udang Paser

Udang segar, sumber kepala udang untuk kaldu petis udang Paser
Udang segar; kepalanya menjadi bahan kaldu petis (foto: Wikimedia Commons)

Halaman rujukan menulis cara paling ringkas: kepala udang direbus sekitar dua jam, kaldunya disaring, dicampur gula merah aren secukupnya, sedikit garam, dan vetsin, lalu diaduk terus sampai menjadi petis. Tidak ada takaran, tidak ada petunjuk api kecil atau besar, dan tidak ada tanda kapan petis dianggap matang.

Langkah Demi Langkah Petis Udang Paser

Empat langkahnya bisa diringkas: rebus kepala udang sekitar dua jam, saring kaldunya, campur dengan gula aren, sedikit garam, dan penyedap, lalu aduk tanpa henti sampai mengental. Kata kuncinya aduk terus, karena gula di dasar panci mudah gosong dan pahit, sama seperti peringatan pada halaman Gula aren tentang api yang menjilat wajan.

Apa Itu Vetsin Di Halaman Itu

Kata vetsin di Wikipedia bahasa Indonesia langsung dialihkan ke halaman Mononatrium glutamat. Jadi penyedap itu memang penguat rasa, bukan bahan pokok. Banyak resep rumahan menggantinya dengan kaldu bubuk, seperti resep Ami dan Lelii Mangunsong, atau membuangnya sama sekali, seperti resep Dapur Leony yang hanya memakai tiga bahan.

Lima Dapur Lima Takaran Petis Udang Paser

Karena halaman rujukan tidak memberi takaran, saya mengumpulkan takaran dari deskripsi video resep petis udang. Hasilnya lima dapur dengan lima cara. Tidak ada yang persis sama, dan itu wajar: petis dibuat dengan mata, hidung, dan sendok, bukan dengan timbangan.

Tabel Perbandingan Lima Resep Petis Rumahan

Dapur pembuat petis udang PaserBahan utamaGulaPengental dan lainnya
Halaman rujukan (Wikipedia)Kaldu kepala udang, direbus sekitar 2 jamGula merah aren secukupnyaSedikit garam dan vetsin, tanpa pati
Lelii Mangunsong (2022)Kepala dari 1 kg udang, 3 gelas air1½ gula merah bulat3 sdm maizena, 4 siung bawang putih, kecap manis opsional
Ami (2021)1 kg kulit dan kepala udang250 g gula merah + 2 sdm gula pasir3 sdm maizena, 1 sdt kaldu bubuk, 1 sdm garam
Dapur Leony (2021)650 g kulit dan kepala udang75 sampai 100 g gula merah atau pasir1 sdt garam, air secukupnya, tanpa pati
Aki Yuri (2021)Kulit udangTakaran tidak ditulisGaram saja, klaim awet sampai tahunan

Hitungan Gula Per Kilo Kepala Udang

Kalau dihitung kasar, resep Ami memakai 250 g gula per 1 kg bahan, atau 25 persen, sedangkan Dapur Leony memakai 75 sampai 100 g per 650 g, atau 11,5 sampai 15 persen. Gula Lelii tidak bisa dihitung karena satuannya ditulis 1½ gula merah bulat. Aki Yuri menolak memberi angka karena sari udang tiap kali berbeda, jawaban jujur yang jarang ditemui di resep.

Mengapa Kaldu Bisa Mengental Petis Udang Paser

Ada dua sumber kekentalan pada petis: air yang diuapkan dan pati yang ditambahkan. Halaman rujukan hanya memakai yang pertama, sedangkan sebagian resep video memakai keduanya. Perbedaan ini menentukan seberapa cepat panci selesai dan seberapa lengket hasil akhirnya.

Menguapkan Air Sampai Kaldu Menjadi Pekat

Kekentalan petis berasal terutama dari penguapan air. Dua jam merebus menyisakan kaldu pekat, dan gula membuatnya berbentuk sirop. Dari empat resep video yang saya baca, dua memakai maizena 3 sdm, yaitu Lelii dan Ami, sedangkan Dapur Leony dan Aki Yuri tidak memakai pati sama sekali.

Pati Sebagai Jalan Pintas Dapur Rumah

Halaman Kecap ikan menulis bahwa petis di Indonesia dibuat dengan memasak dan memekatkan cairan fermentasi ikan yang telah digarami, dengan tambahan sedikit tepung. Jadi tepung bukan hal baru dalam definisi petis. Bedanya, halaman rujukan versi Paser tidak menyebut tepung sama sekali, sehingga pati di resep rumahan lebih tepat dianggap adaptasi.

Kenapa Warnanya Hitam Pekat Petis Udang Paser

Petis hampir selalu berwarna cokelat tua sampai hitam, walau bahan awalnya kaldu keruh kemerahan. Perubahan itu punya dua penjelasan yang bisa dibaca di halaman Wikipedia, dan keduanya bekerja bersamaan di dalam panci.

Karamel Gula Batok Menghitamkan Kaldu Udang

Halaman Petis menerangkan bahwa dalam pengolahan lanjutan, petis ditambah karamel gula batok. Inilah yang membuat warnanya cokelat cenderung hitam dan rasanya manis. Gula batok adalah gula merah cetak yang biasa dijual berbentuk setengah bola. Semakin lama dimasak, semakin gelap dan semakin pekat pula rasa manis pahitnya.

Reaksi Maillard Melanoidin Petis Udang Kaltim

Halaman Kecap ikan menjelaskan bahwa pemanasan memicu reaksi Maillard antara senyawa amino dan gula pereduksi, membentuk melanoidin, polimer cokelat. Untuk kecap ikan, halaman itu menganggap warna cokelat menurunkan kenampakan produk. Untuk petis, sudut pandangnya berbalik: cokelat kehitaman justru tanda petis sudah jadi. Ini tafsiran saya, bukan kutipan.

Legenda Cirebon Dalam Halaman Petis Udang Paser

Bagian asal-usul halaman rujukan dibuka dengan legenda yang tidak berhubungan dengan Kalimantan sama sekali. Tokohnya raja, kuwu, nelayan, dan gelondongan udang. Kita bacakan dulu apa adanya, baru diperiksa dengan halaman lain.

Apa Persisnya Isi Legenda Dari Cirebon

Menurut halaman rujukan, petis sudah ada sejak zaman kerajaan Padjajaran, saat Pangeran Walangsungsang alias Cakrabuana bertahta, disebut anak Prabu Siliwangi yang berkuasa sekitar abad ke-14. Kuwu Cirebon mempersembahkan tangkapan nelayan pantai utara berupa gelondongan udang rebon rebus sebagai upeti. Sisa air rebusannya lalu diolah menjadi petis.

Legenda Menyeberangi Laut Petis Udang Paser

Setelah cerita Cirebon, halaman itu tiba-tiba pindah ke Kalimantan Timur: di sana ada petis khas orang Paser yang berasal dari nenek moyang suku laut Bajo. Tidak ada kalimat penghubung tentang bagaimana resep dari pantai utara Jawa Barat sampai ke Tanah Paser, dan tidak ada satu tahun pun yang menjembatani keduanya.

Kota Bernama Air Rebon Petis Udang Paser

Pasta rebon Acetes dari Vietnam, kerabat terasi dan petis udang Paser
Pasta rebon (Acetes) dari Provinsi Thanh Hoa, Vietnam, kerabat terasi dan petis (foto: Wikimedia Commons)

Legenda itu menjadi lebih masuk akal begitu kita tahu nama kotanya. Halaman Kota Cirebon menuliskan satu versi asal nama yang langsung menyebut rebon dan petis. Artinya legenda yang ditempel pada petis Paser meminjam kota yang secara harfiah dinamai dari sisa air pengolahan udang.

Asal Kata Cirebon Menurut Dua Versi

Halaman Kota Cirebon memberi dua asal nama. Versi pertama: sarumban, dukuh kecil yang dibangun Ki Gedeng Tapa, lalu menjadi Caruban karena carub bermakna bersatu padu, berubah menjadi carbon, dan akhirnya cirebon. Versi kedua: sejak awal warga bekerja sebagai nelayan penangkap ikan dan rebon serta pembuat terasi, petis, dan garam. Air sisa pembuatan terasi menjadi cai-rebon, air rebon.

Halaman Terasi Ikut Mengulang Kisah Itu

Halaman Terasi mengaitkan terasi dengan sejarah berdirinya Cirebon, nama yang dalam bahasa Sunda dianggap lakuran ci, air, dan udang rebon. Halaman yang sama menguraikan terasi Toboali di Bangka Selatan: rebon segar direbus di pinggir pantai, ditumbuk dengan lesung kayu, dicampur garam, dijemur, lalu ditumbuk lagi. Terasi Riau dibahas di Gulai Belacan.

Cakrabuana Bukan Raja Pajajaran Petis Udang Paser

Sekarang kita periksa tokoh di legenda dengan halamannya sendiri. Halaman rujukan menyebut Walangsungsang atau Cakrabuana sebagai raja Padjajaran anak Prabu Siliwangi pada abad ke-14. Halaman Pangeran Cakrabuana di Wikipedia menceritakan sosok yang cukup berbeda.

Siapa Sebenarnya Sosok Pangeran Walangsungsang Itu

Halaman itu menulis Walangsungsang adalah putra Sri Baduga Maharaja dari Nyi Subang Larang, dikenal pula sebagai Ki Somadullah, Haji Abdullah Iman, dan Embah Kuwu Sangkan. Ia berlayar ke Mekkah pada 1448, lalu pulang dan menjadi kuwu Cirebon menggantikan Ki Gede Alang-Alang, memakai nama Cakrabuana. Pelabuhan utamanya Muara Jati.

Abad Lima Belas Petis Udang Kaltim

Perjalanan haji tahun 1448 menaruh Cakrabuana di abad ke-15, bukan ke-14. Jabatannya juga kuwu atau penguasa Cirebon, bukan raja Padjajaran. Halaman Sri Baduga Maharaja menulis bahwa ayahnya sendiri yang menerima takhta Sunda di Pakuan, dan Prasasti Batutulis dibuat pada 1533 oleh putranya, Surawisesa. Jadi legenda itu meleset sekitar satu abad dan satu jabatan.

Upeti Kapas Bukan Udang Petis Udang Paser

Legenda Cirebon memakai kata upeti sebagai jembatan: udang rebon dipersembahkan kepada raja. Kata itu menarik karena halaman Sri Baduga Maharaja memang membahas upeti ke Pakuan Pajajaran, jadi bisa dicek barang apa saja yang tercatat di sana.

Daftar Upeti Dalam Halaman Sri Baduga

Di halaman Sri Baduga Maharaja yang saya baca, contoh upeti yang disebut adalah kapas: daerah Kandang Wesi, kini Bungbulang di Garut, harus membawa sepuluh carangka kapas ke Pakuan setiap tahun. Tidak ada kalimat tentang udang rebon. Ini bukan bukti bahwa upeti udang tak pernah ada, hanya bahwa halaman itu tidak mencatatnya.

Angka 1404 Saka Petis Udang Paser

Halaman yang sama memuat naskah Pustaka Nagara Kretabhumi: pada 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat atau Sunan Gunung Jati menghentikan upeti tahunan ke Pakuan Pajajaran. Tahun Saka ditambah 78 kira-kira sama dengan tahun Masehi, jadi 1404 Saka jatuh sekitar 1482. Dugaan saya, angka 1404 dan frasa abad ke-14 mungkin tertukar. Ini hipotesis, bukan temuan.

Jejak Tertulis Paling Tua Petis Udang Paser

Kalau legenda Padjajaran tak bisa dipegang, apa catatan tertulis tertua tentang petis yang bisa ditemukan di halaman-halaman ini? Jawabannya datang dari seorang gubernur Inggris, bukan dari kitab kerajaan, dan ia menulis tentang Jawa, bukan Kalimantan.

Raffles Menulis Tentang Petis Orang Jawa

Halaman Petis mengutip Raffles, Gubernur-Letnan Inggris di Jawa pada 1811 sampai 1816, yang menulis bahwa orang Jawa biasa mengolah petis dari cairan sisa pengolahan udang, dan di wilayah pedalaman dari pengolahan daging kerbau. Ini catatan tertulis tertua yang saya temukan di halaman-halaman tersebut, dan asalnya Jawa.

Catatan Tertulis Petis Paser Belum Ditemukan

Untuk Paser, halaman rujukan hanya menulis bahwa dahulu petis sering dipakai dalam acara perkawinan, sunatan, dan syukuran, tanpa satu tahun pun. Pencarian saya di halaman terkait tidak menemukan catatan tertulis tentang petis Paser sebelum penetapan 2016. Jadi umur petis Paser sebenarnya tidak diketahui, dan tanggal zaman Padjajaran tidak bisa diuji.

Leluhur Suku Laut Bajo Petis Udang Paser

Regatta Lepa suku Bajau di Semporna, terkait klaim leluhur Bajo petis udang Paser
Regatta Lepa di Semporna, Sabah: perahu-perahu suku Bajau yang sering disebut gipsi laut (foto: Wikimedia Commons)

Klaim keempat menyebut petis Paser berasal dari nenek moyang orang Paser yang berasal dari suku laut Bajo. Untuk memeriksanya saya membaca dua halaman: satu tentang Bajau, satu lagi tentang orang Paser sendiri. Keduanya memberi gambaran yang tidak persis sama dengan klaim itu.

Suku Bajau Sang Gipsi Laut Nusantara

Halaman Suku Bajau menulis mereka nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut, dan gelombang migrasi terakhir yang memasuki pesisir Kalimantan Timur sampai Kalimantan Selatan, lebih dahulu daripada Bugis dan Mandar. Daftar wilayah Kalimantan Timurnya: Berau, Bontang, dan Balikpapan. Paser tidak disebut. Cerita Bajau di Bontang ada di Gami Bawis Bontang.

Cerita Asal Usul Orang Paser Sendiri

Halaman Suku Paser menceritakan asal-usul lain: peradaban Bansu Tatau Datai Danum, manusia yang hidup di pesisir, sungai, dan danau, lalu Benuo Rekan Tatau di hulu Sungai Telake dan Kendilo. Nama Pasir sudah tertulis dalam Negarakertagama pada 1365. Kata pesisir memang muncul, tetapi tidak ada satu kalimat pun tentang leluhur Bajo.

Geografi Sungai Dan Pesisir Petis Udang Paser

Kabupaten Paser di Kalimantan Timur, daerah asal petis udang Paser
Kabupaten Paser di ujung selatan Kalimantan Timur (gambar: Wikimedia Commons)

Untuk mengerti mengapa kepala udang tersedia di Paser, kita perlu melihat peta. Halaman Kabupaten Paser menempatkannya di bagian paling selatan Kalimantan Timur, dilalui jalan nasional yang menghubungkan Kalimantan Timur dengan Kalimantan Selatan, dengan Selat Makassar membentang di sebelah timur.

Tiga Sungai Besar Di Bumi Paser

Halaman itu mencatat tiga sungai besar: Sungai Pasir 221 km, Sungai Kandilo 191 km, dan Sungai Taluksari 169 km. Bagian timur kabupaten berupa dataran rendah dengan rawa dan aliran sungai, sedangkan bagian barat bergelombang sampai bergunung, dengan puncak seperti Gunung Sarumpaka 1.380 m dan Gunung Lumut 1.233 m.

Selat Makassar Dan Pelabuhan Teluk Adang

Pelabuhan laut utama Paser, Teluk Adang, terletak 12 km di utara ibu kota, dan Tanah Grogot berjarak sekitar 145 km dari Balikpapan atau 260 km dari Samarinda. Kalau ingin melihat sendiri pasar tempat petis dijual, rute darat itu bisa dipadukan dengan perjalanan terorganisir lewat marketplace seperti Kumbaya.id, yang menyediakan open trip outdoor dengan jadwal dan harga transparan.

Dari Pasir Menjadi Paser Petis Udang Paser

Jembatan Tanah Grogot Sungai Tuak di ibu kota daerah petis udang Paser
Jembatan Tanah Grogot menuju Sungai Tuak, di ibu kota Kabupaten Paser (foto: Wikimedia Commons)

Nama tempat ini sendiri berganti dua kali dalam abad ini. Halaman Kabupaten Paser mencatat kabupaten yang dulu bernama Pasir kini bernama Paser, dan ibu kotanya yang dulu bernama Tanah Grogot kini bernama Tana Paser. Keduanya lewat peraturan pemerintah, dengan jarak enam tahun.

Dua Kali Berganti Nama Sejak 2007

Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser lewat Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2007, atas perjuangan bupati H.M. Ridwan Suwidi. Lalu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2013 mengubah nama ibu kota dari Tanah Grogot menjadi Tana Paser. Di lapangan, orang masih memakai Tanah Grogot, dan halaman Tanah Grogot mencatat 76.334 penduduk kecamatan itu pada 2021, 97,20 persen beragama Islam.

Ejaan Pasir Dalam Peta Eropa Kuno

Halaman Suku Paser mencatat nama Pasir sudah tertulis dalam Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada 1365, lalu muncul di peta Eropa sejak 1688 dengan ejaan seperti Passeir, Passer, Pafsir, dan Passir. Artinya nama tempat ini berusia lebih dari enam abad, jauh lebih tua daripada nama resminya sekarang. Kalau mencari petisnya di internet, coba kedua ejaan.

Kesultanan Sadurengas Jalur Dagang Petis Udang Paser

Interior Masjid Agung Nurul Falah Paser, jejak sejarah Islam di tanah petis udang Paser
Interior Masjid Agung Nurul Falah di Paser (foto: Wikimedia Commons)

Kabupaten Paser bukan wilayah tanpa sejarah tertulis. Ia adalah bekas pusat sebuah kesultanan, dan halaman Kesultanan Paser memberi tanggal-tanggal yang lebih kokoh daripada legenda petis. Dari situ kita bisa menebak jalur mana yang mungkin membawa bumbu dan cara memasak.

Putri Petong Ratu Pertama Kerajaan Sadurengas

Halaman Kesultanan Paser menulis kerajaan berdiri pada 1516 dipimpin seorang ratu, Putri Petong, walau satu buku lokal yang dikutip halaman itu memberi tanggal 630 Masehi. Ia menikah dengan Abu Mansyur Indra Jaya, pemimpin ekspedisi Islam dari Demak, dan halaman Kabupaten Paser memberi tahun 1523. Kesultanan berakhir pada 7 April 1906.

Sungai Kandilo Jalur Dagang Islam Awal

Menurut halaman Kesultanan Paser, Islam masuk lewat perkawinan dan lewat perdagangan Sungai Kandilo, sungai besar yang dilalui pedagang dari berbagai daerah Nusantara, termasuk pedagang Arab. Jalur seperti itu bisa juga membawa bumbu dan cara memasak. Petis tidak disebut di halaman itu, jadi hubungan ini hanya kemungkinan yang masuk akal, bukan fakta.

Bekas Wilayah Kalimantan Selatan Petis Udang Paser

Kalau kamu pernah membaca rangkaian tulisan Kalimantan Selatan di blog ini, sebagian cerita politiknya ternyata berhubungan dengan Paser. Kabupaten ini pernah menjadi bagian Kalimantan Selatan dan pernah tercatat sebagai negeri bawahan dalam perjanjian dengan Kesultanan Banjar.

Kewedanaan Paser Di Bawah Kabupaten Kotabaru

Halaman Kabupaten Paser mencatat sampai 1959 wilayah ini berstatus kewedanaan di dalam Provinsi Kalimantan Selatan, di bawah Kabupaten Kotabaru. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 menjadikannya daerah swatantra, dan pada 3 Agustus 1961 daerah itu dimasukkan ke Kalimantan Timur. Serah terima dilakukan 29 Desember 1961 di Jakarta.

Dependensi Banjar Raya Petis Udang Paser

Halaman Kesultanan Paser menulis bahwa menurut perjanjian VOC dengan Kesultanan Banjar, negeri Paser adalah bekas dependensi di dalam Banjar Raya. Halaman Suku Paser menambahkan penduduk pesisirnya kini didominasi pendatang Jawa, Bugis, dan Banjar. Dapur pesisir Paser karenanya sangat mungkin campuran. Rasa Banjar ada di Soto Banjar dan Sari Pangantin.

Sidoarjo Gresik Madura Kendal Petis Udang Paser

Untuk menilai apakah petis Paser unik, kita perlu tahu peta petis di tempat lain. Halaman Petis memberi daftar yang panjang dan hampir seluruhnya di Jawa. Di sana petis tidak sekadar bumbu, melainkan identitas daerah.

Petis Sidoarjo Dan Desa Gumeng Gresik

Halaman Petis menulis petis udang dikenal sebagai bumbu khas Sidoarjo, walau industrinya ada di mana-mana di Jawa Timur, termasuk Desa Gumeng, Kecamatan Bungah, Gresik. Video CNN Indonesia tentang produsen petis Gresik yang saya bahas nanti sesuai dengan gambaran ini: tambak udang di satu ujung, toples petis di ujung lain.

Petis Madura Petis Sapi Petis Banyar

Petis Madura lebih asin, tampil lebih cerah, dan berwarna merah kecokelatan; yang populer petis ikan tuna dan petis lorjuk dari kerang bambu, dibuat di Galis, Pasean Pamekasan, dan Sampang. Boyolali punya petis sapi dari sisa dendeng dan abon, sedangkan Kendal dan Semarang punya petis banyar dari kembung lelaki, bahan petis bumbon.

Terasi Dan Kecap Ikan Petis Udang Paser

Pasta udang Filipina bagoong alamang, kerabat jauh petis udang Paser
Pasta udang dari Filipina, kerabat jauh petis dan terasi (foto: Wikimedia Commons)

Wikipedia bahasa Indonesia punya tiga halaman yang menyentuh petis: Petis, Terasi, dan Kecap ikan. Bacalah ketiganya berurutan dan kamu mendapat tiga definisi berbeda, sesuatu yang membantu menjelaskan mengapa versi Paser terasa sulit dikategorikan.

Tiga Definisi Petis Dalam Satu Wikipedia

Halaman Petis: produk sampingan makanan berkuah yang dipanaskan sampai kental. Halaman Kecap ikan: cairan fermentasi ikan bergaram yang dipekatkan dengan sedikit tepung. Halaman rujukan Paser: kaldu kepala udang plus gula aren tanpa fermentasi dan tanpa tepung. Tiga proses, satu nama. Halaman Petis bahkan menyebut petis tampaknya hanya dikenal di Indonesia dan Malaysia, sementara terasi ada di hampir seluruh Asia Tenggara.

Petis Dianggap Kalah Dari Nam Pla

Halaman Kecap ikan mendaftar padanan petis: nam pla di Thailand, patis di Filipina, shottsuru di Jepang, nước mắm di Vietnam. Petis Indonesia disebut bermutu lebih rendah karena rasio nitrogen dan garamnya rendah, dan nam pla dianjurkan diperam sampai 6 bulan atau bahkan 2 sampai 3 tahun. Perbandingan itu kurang adil: petis dipakai sebagai bumbu manis, bukan penyedap asin.

Enam Puluh Judul Video Petis Udang Paser

Untuk melihat bagaimana petis dibicarakan orang hari ini, saya mengumpulkan judul video dari sepuluh kueri pencarian. Hasilnya 74 video unik, dengan 60 di antaranya jelas membahas petis. Hitungan katanya mengandung kejutan yang sejalan dengan legenda Cirebon tadi.

Hasil Hitungan Kata Pada Judul Video

Dari 60 judul itu, petis udang muncul 25 kali, resep 15, telur petis 12, Jawa Timur 11, dan Madura 6. Kepala udang muncul 6 kali, kulit udang 4, Gresik 3, Sidoarjo 1. Kata Paser muncul nol kali. Video bahkan menyebut sendiri asal petis: deskripsi Lelii Mangunsong menulis petis berasal dari Jawa Timur.

Hanya Satu Video Dari Tanah Grogot

Satu-satunya judul yang menyebut ibu kota Paser adalah Tahu Petis Byurr Tanah Grogot dari kanal King Elbaf, diunggah 16 Desember 2016, berdurasi 236 detik, ditonton 288 kali. Deskripsinya hanya satu kalimat tentang pilihan kuliner tahu petis. Saya hanya membaca judul dan deskripsinya, jadi isinya tidak saya ulas.

Proses Petis Di Gresik Petis Udang Paser

Sebagai pembanding skala industri, video CNN Indonesia berjudul Sehari Menjadi Produsen Petis Gresik berdurasi 680 detik dan sudah ditonton 53.854 kali sejak diunggah pada 29 April 2023. Deskripsinya menyebut alurnya dari panen di tambak udang sampai petis siap konsumsi, dengan bumbu petis khas Jawa Timur sebagai hasil akhir.

Dari Panen Tambak Sampai Petis Jadi

Yang menarik dari alur itu adalah titik awalnya: tambak, bukan tempat pelelangan ikan atau pantai. Bahan mentahnya udang budi daya yang kepala dan kulitnya tersedia dalam jumlah besar. Di Paser, halaman rujukan tidak menyebut tambak, hanya bahwa petis dibuat dari kepala udang dan dijual di pasar tradisional.

Skala Pabrik Lawan Dapur Rumahan Paser

Di sisi dapur rumahan, video Aki Yuri ditonton 398.946 kali, dan video Khikma Makfiro ditonton 480.188 kali. Angka itu jauh melampaui video Gresik CNN, tanda bahwa penonton lebih ingin membuat petis sendiri daripada melihat pabriknya. Pola ini juga membantu menjelaskan mengapa resep petis rumahan tampil di mana-mana tetapi petis Paser nyaris tidak.

Telur Petis Teman Lontong Petis Udang Paser

Lontong sayur, pasangan telur petis dari petis udang Paser
Lontong sayur, hidangan tempat telur petis biasa menumpang (foto: Wikimedia Commons)

Satu-satunya hidangan yang disebut halaman rujukan sebagai olahan petis Paser adalah telur petis, pelengkap lontong sayur. Ini menarik karena hidangan telur dengan petis ternyata tersebar di banyak daerah, dan video resepnya hampir semua menyebut Jawa Timur atau Madura.

Resep Telur Petis Menurut Halaman Rujukan

Halaman rujukan menulis telur petis dibuat dengan mencampur bumbu dasar bawang merah, bawang putih, dan cabe, lalu petis serta gula dan garam sesuai selera, dimasak bersama telur ayam yang sudah direbus lebih dulu. Tidak disebut santan, tidak disebut tomat, dan tidak ada takaran satu pun.

Lontong Sayur Yang Menjadi Panggung Utamanya

Halaman Lontong sayur menulis hidangan ini berupa irisan lontong dalam kuah santan encer berisi sayur seperti labu siam, buncis, dan nangka muda, dengan tempe, tahu, telur rebus, sambal, dan kerupuk. Halaman itu menempatkannya dalam tradisi Betawi dan Minang. Telur petis dari 12 judul video saya berasal dari Jawa Timur, Madura, Banyuwangi, dan Semarang, bukan Paser.

Rujak Cingur Tahu Campur Petis Udang Paser

Tahu campur Jawa Timur yang memakai petis, pembanding petis udang Paser
Tahu campur Surabaya, salah satu hidangan yang memakai petis sebagai bumbu (foto: Wikimedia Commons)

Halaman rujukan sendiri menulis bahwa petis dipakai sebagai penyedap pada rujak jawa timuran, kupang lontong, lontong balap, tahu campur, dan tahu tek. Semua hidangan itu berasal dari Jawa Timur, dan halaman-halaman masing-masing di Wikipedia menyebut petis sebagai unsur pokoknya.

Rujak Cingur Dulu Memakai Petis Ikan

Halaman Rujak cingur menulis bahwa rujak cingur tiba di Surabaya sekitar 1930-an dibawa perantau Madura. Awalnya mereka memakai petis ikan cakalang khas Madura, lalu menambahkan petis udang agar cocok dengan lidah orang Surabaya yang mayoritas Jawa. Jadi perpindahan dari petis ikan ke petis udang sudah terjadi di Jawa dalam sekitar satu abad.

Tahu Tek Lontong Balap Lontong Kupang

Tahu tek dinamai dari bunyi gunting pada tahu dan lontong, lalu disiram saus kacang berpetis. Lontong balap khas Surabaya berisi tauge, tahu, lentho, dan sate kerang. Lontong kupang berakar di Balongdowo, Candi, Sidoarjo, dengan kuah petis. Di Paser hidangan sepadan tampaknya jauh lebih sederhana: telur rebus dan lontong sayur.

Warisan Budaya Takbenda Indonesia Petis Udang Paser

Bahasa Paser di ruang publik Tanah Grogot, identitas budaya petis udang Paser
Bahasa Paser di ruang publik Tanah Grogot (foto: Wikimedia Commons)

Petis khas Paser mendapat pengakuan negara pada 2016. Halaman rujukan menulis penetapannya dilakukan lewat surat keputusan tertentu dengan kode referensi tertentu, dan dalam domain yang pada pandangan pertama tampak tidak cocok untuk makanan. Dua hal itu layak dicek.

Kenapa Domain Kemahiran Dan Kerajinan Tradisional

Halaman rujukan menulis penetapan dilakukan dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Sekilas ini terdengar salah untuk sebuah makanan, tetapi halaman Warisan Budaya Takbenda Indonesia menempatkan kuliner tradisional, seperti rendang, tinutuan, gudeg, dan tumpeng, di dalam domain kelima itu. Jadi ini bukan salah kategori.

Nomor SK Dan Kode Referensi Penetapan

Halaman rujukan mencatat penetapan lewat SK Nomor 244/P/2016 dengan kode referensi AA000696, dan menyebut pembuatnya Menteri Kebudayaan. Setahu saya urusan itu pada 2016 berada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan Kementerian Kebudayaan baru dibentuk pada 2024, jadi penulisan itu tampaknya memakai nama kementerian masa kini.

Umur Simpan Yang Diklaim Petis Udang Paser

Sepotong pasta udang awet dari toko di Hong Kong, pembanding umur simpan petis udang Paser
Sepotong pasta udang dari toko di pasar Hong Kong, contoh olahan udang yang dibuat awet (foto: Wikimedia Commons)

Salah satu alasan petis dibuat adalah agar rasa udang bisa disimpan lama. Judul beberapa video menonjolkan kata tahan lama, dan satu video menyebut sampai tahunan. Bagian ini membandingkan klaim itu dengan yang ditulis di halaman Wikipedia soal kaldu.

Tahan Sampai Tahunan Menurut Aki Yuri

Video Aki Yuri berdurasi 815 detik, diunggah 24 Maret 2021, dan ditonton 398.946 kali. Deskripsinya menulis petis udang asli tanpa bahan pengawet yang bisa tahan lama sampai tahunan, dengan bahan hanya kulit udang, gula, dan garam. Klaim itu belum diuji laboratorium, jadi sebaiknya petis rumahan tetap disimpan di kulkas.

Mengapa Kaldu Cepat Basi Petis Awet

Halaman Kaldu menulis bahwa kaldu bisa bertahan satu pekan di kulkas bila wadahnya tertutup. Petis adalah kaldu yang airnya diuapkan dan ditambah gula dan garam, sehingga kadar airnya jauh lebih rendah. Penjelasan itu berasal dari pengetahuan umum tentang pangan, bukan dari halaman rujukan.

Tips Memilih Dan Menyimpan Petis Udang Paser

Kalau suatu hari kamu sampai di pasar tradisional di Paser dan menemukan petis, atau membuatnya sendiri, ada beberapa hal praktis yang bisa dipegang. Tips ini merangkum dari halaman Wikipedia dan resep video yang saya bahas, bukan dari uji dapur saya sendiri.

Cara Menilai Petis Di Pasar Tradisional

Carilah warna cokelat tua kehitaman yang mengilap, tekstur pekat yang mengalir pelan, dan aroma laut yang manis tanpa bau gosong. Gula yang terbakar berasa pahit, seperti peringatan halaman Gula aren. Tanyakan bahan dasarnya: kepala udang saja, atau bercampur tepung. Cicipi sedikit, karena rasa manis dan asinnya berbeda dari satu pembuat ke pembuat lain.

Perhatikan Alergi Udang Dan Kadar Garam

Petis dipekatkan, jadi alergen udang, gula, dan garam ikut terkonsentrasi. Orang yang alergi krustasea sebaiknya menjauh, dan sesendok kecil sudah cukup sebagai bumbu. Halaman Astaksantin menyebut pigmen merah ini ada pada udang dan mengklaim khasiat antioksidan yang sangat kuat, tetapi itu tidak berarti sesendok petis menyehatkan.

Penutup Pelajaran Dari Sesendok Petis Udang Paser

Jadi, apa sebenarnya petis udang Paser? Ia adalah pasta manis gurih dari kaldu kepala udang dan gula aren, diakui negara sebagai warisan budaya takbenda pada 2016, dijual di pasar tradisional, dan dipakai untuk telur petis pendamping lontong sayur. Selebihnya masih terbuka.

Yang Bisa Dipegang Dari Halaman Itu

Yang bisa dipegang: bahan utamanya kepala udang, gulanya gula aren, prosesnya perebusan sekitar dua jam lalu pengentalan sambil diaduk, dan penetapannya 2016. Yang tidak bisa dipegang: legenda Cirebon abad ke-14, tokoh Cakrabuana sebagai raja, dan leluhur Bajo. Ketiganya tidak cocok dengan halaman Wikipedia lain yang saya baca.

Yang Masih Perlu Dibuktikan Pembaca Lokal

Bagian yang paling saya rindukan adalah suara orang Paser sendiri: siapa pembuat petis tertua, kapan mereka belajar, apakah ada takaran turun-temurun, dan apakah cerita Bajo hidup di keluarga mereka. Kalau kamu orang Paser atau pernah membeli petis di Tana Paser, cerita itu jauh lebih berharga daripada semua halaman yang saya baca.

Mau ikut open trip yang terorganisir dan aman? Temukan berbagai pilihan trip outdoor di Kumbaya.id. Dan buat kamu penyelenggara trip, Kumbaya juga menyediakan platform untuk kelola trip, peserta, dan pembayaran online — semua dalam satu tempat.

You may also like

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.