Bayangin kamu jalan santai di gang sempit pinggir Sungai Martapura, Banjarmasin. Bau samar pewarna nyampur sama angin sungai. Di teras rumah kayu, seorang ibu lagi narik benang jelujur dari selembar kain putih — pelan, telaten, kayak lagi ngobrol sama kainnya. Beberapa jam lagi, kain itu bakal jadi selembar sasirangan dengan motif yang nggak akan pernah sama persis dengan kain mana pun di dunia.
Buat banyak orang, sasirangan cuma “batiknya orang Banjar” yang dijual di toko oleh-oleh bandara. Padahal teknik, filosofi, dan sejarahnya beda jauh dari batik. Kain ini lahir dari permintaan, bukan dari pasar. Dulu dipakai buat pengobatan, bukan buat gaya.
Kabar bagusnya: kamu nggak cuma bisa beli. Kamu bisa datang, duduk bareng perajinnya, narik benang sendiri, nyelupin kain sendiri, dan pulang bawa kain hasil tangan kamu sendiri. Artikel ini bakal ngupas tuntas sejarah, motif, proses, sampai itinerary lengkap wisata edukasi kain sasirangan di Banjarmasin.
Daftar Isi
Apa Itu Kain Sasirangan? Kain Celup yang Lahir dari Sebuah Permintaan
Sasirangan adalah kain tradisional suku Banjar dari Kalimantan Selatan yang dibuat dengan teknik resist dyeing — teknik merintangi warna. Namanya datang dari kata Banjar sirang, yang artinya menjelujur atau menjahit dengan pola jahitan melompat-lompat. Jadi secara harfiah, kain sasirangan berarti “sesuatu yang dijelujur”.
Di sinilah beda mendasarnya dengan batik. Batik merintangi warna pakai lilin malam yang digoreskan pakai canting. Sasirangan merintangi warna pakai jahitan dan tarikan benang. Kain dijahit mengikuti pola, lalu benangnya ditarik sekencang mungkin sampai kain berkerut padat. Bagian yang terjepit kerutan itulah yang nggak kena warna, dan jadi motif.
Nama aslinya bukan kain sasirangan, tapi kain pamintan — dari kata “pinta” alias permintaan. Soalnya dulu kain ini cuma dibuat kalau ada yang memesan secara khusus, biasanya buat hajatan atau pengobatan. Nama lain yang dipakai adalah kain batatamba, alias kain pengobatan.
Sekarang, sasirangan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Kalimantan Selatan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Status kain sasirangan naik dari kain ritual jadi identitas daerah — dipakai buat seragam ASN, seragam sekolah, sampai busana modern.
Sejarah Kain Sasirangan: Legenda Putri Junjung Buih dan Kain Batatamba
Sejarah kain sasirangan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-12, di masa Kerajaan Negara Dipa. Ceritanya masuk ke dalam Hikayat Banjar, dan jujur aja, ini salah satu legenda paling sinematik di Nusantara.
Alkisah Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut yang dihanyutkan di sungai. Di penghujung pertapaannya, muncullah sosok Putri Junjung Buih dari buih air sungai. Sang putri bersedia diangkat jadi ratu, tapi dengan satu syarat: dibuatkan selembar kain pamintan yang ditenun dan diwarnai oleh 40 orang perawan dalam waktu satu hari satu malam.
Dari situlah tradisi sasirangan bermula. Karena akarnya dari permintaan seorang putri yang muncul dari air, kain ini sejak awal punya aura sakral. Nggak dijual bebas, nggak dibuat massal.
Fungsi sakralnya makin jelas lewat peran batatamba. Masyarakat Banjar dulu percaya kain sasirangan punya daya penyembuh dan penolak bala. Yang menarik, motif dan warnanya nggak asal pilih — semuanya disesuaikan sama jenis penyakit atau niat si pemesan. Ada warna buat sakit kepala, ada motif buat perlindungan dari gangguan gaib.
Pergeserannya baru terjadi belakangan. Dari kain pesanan ritual yang eksklusif, sasirangan pelan-pelan jadi komoditas kerajinan yang dijual terbuka. Pergeseran serupa juga kelihatan di kerajinan tradisional lain, misalnya tenun gringsing Tenganan yang dulunya cuma buat upacara adat.
Proses Pembuatan Kain Sasirangan: 7 Tahap yang Bikin Kamu Paham Harganya
Kalau kamu pernah mikir “kok kain sasirangan asli mahal banget sih?”, tujuh tahap ini jawabannya. Semuanya dikerjakan manual, dan satu kesalahan kecil bisa bikin selembar kain gagal total.

1. Menggambar Motif
Pola digambar dulu di atas kain putih polos — biasanya katun atau sutra — pakai pensil atau kapur jahit. Tahap ini yang nentuin arah seluruh desain.
2. Menjelujur alias Menyirang
Kain dijahit menjelujur mengikuti garis pola pakai jarum dan benang tebal. Ini inti dari nama kain sasirangan. Buat motif rumit, satu lembar kain bisa makan waktu berjam-jam cuma di tahap ini.
3. Menarik dan Mengikat (Serut)
Benang jelujur ditarik sekuat tenaga sampai kain berkerut padat banget. Makin kencang tarikannya, makin tajam batas motifnya nanti. Kalau kendor, warna bakal bocor dan motif jadi burem.
4. Mewarnai
Kain yang sudah berkerut dicelupkan ke larutan pewarna. Buat motif multiwarna, proses celup diulang beberapa kali dengan bagian yang ditutup berbeda-beda.
5. Mengunci Warna (Fiksasi)
Kain direndam atau diolesi bahan pengunci seperti tawas, kapur sirih, atau tunjung. Tanpa tahap ini, warna kain sasirangan bakal luntur di cucian pertama.
6. Melepas Jahitan
Setelah agak kering, benang jelujur dilepas satu per satu pakai pisau kecil atau gunting. Ini momen paling mendebarkan — motifnya baru kelihatan utuh di sini. Ini juga bagian paling seru kalau kamu ikut workshop.
7. Mencuci dan Menjemur
Kain dicuci sampai bersih dari sisa pewarna, lalu dijemur di tempat teduh. Jangan kena matahari langsung, karena bisa bikin warna cepat pudar.
10 Motif Kain Sasirangan dan Makna yang Tersembunyi di Baliknya
Ini bagian yang bikin kain sasirangan beda dari kain celup biasa. Setiap motif punya nama, inspirasi, dan doa yang dititipkan di dalamnya. Berikut sepuluh motif klasik yang paling sering kamu temui.

- Gigi Haruwan — terinspirasi deretan gigi ikan haruan (ikan gabus). Maknanya ketajaman berpikir, ketabahan, dan kemauan keras.
- Hiris Gagatas — berbentuk belah ketupat. Melambangkan keindahan, ketelitian, dan keharmonisan hidup.
- Kambang Raja — motif bunga raja. Melambangkan keluhuran, kehormatan, dan status sosial tinggi.
- Naga Balimbur — dari cerita naga yang mandi di sungai. Maknanya kegagahan, kesenangan, dan ketenangan hati.
- Bayam Raja — terinspirasi tumbuhan bayam raja. Melambangkan penghormatan pada leluhur dan kemakmuran.
- Daun Jaruju — dari tanaman berduri jaruju. Dipercaya sebagai penolak bala dan pelindung dari marabahaya.
- Kulat Kurikit — dari jamur yang menempel di batang kayu. Maknanya kemandirian dan daya tahan di situasi sulit.
- Ombak Sinapur Karang — gambaran ombak menghantam karang. Melambangkan perjuangan hidup dan keteguhan iman.
- Turun Dayang — melambangkan kehadiran dayang istana. Maknanya keanggunan, kelembutan, dan kebahagiaan.
- Sari Gading / Bawang Sabawang — terinspirasi umbi bawang. Melambangkan kesehatan, penawar penyakit, dan kesederhanaan.
Pas belanja sasirangan, coba tanya perajinnya motif apa yang kamu pegang. Jawabannya sering jauh lebih menarik daripada motifnya sendiri.
Pewarna Alami: Rahasia Warna Kain Sasirangan yang Susah Ditiru Mesin
Sebelum pewarna sintetis masuk, seluruh warna kain sasirangan diambil dari tumbuhan yang tumbuh di sekitar rumah perajin. Hasilnya warna yang lebih kalem, sedikit nggak rata, dan justru itu yang bikin karakternya kuat.
- Kunyit — kuning cerah.
- Mengkudu — merah sampai kecokelatan.
- Gambir — cokelat kekuningan hingga cokelat tua.
- Jahe — kuning pucat atau krem.
- Kayu ulin — cokelat tua kehitaman.
- Biji buah rambutan — hitam atau cokelat gelap.
- Daun jati muda — merah, merah muda, sampai kecokelatan.
Satu catatan penting sebelum kamu terlalu berharap: sebagian besar perajin komersial sekarang pakai pewarna sintetis karena jauh lebih cepat dan warnanya konsisten. Kalau kamu pengin workshop sasirangan yang benar-benar pakai pewarna alami, sebaiknya pesan jauh-jauh hari dan tanyakan langsung ke penyelenggaranya. Prinsip pewarna alami ini mirip dengan yang dipakai di tenun ulap doyo Dayak Benuaq di Kalimantan Timur.
Wisata Edukasi Kain Sasirangan di Kampung Sasirangan Banjarmasin
Ini bagian yang paling ditunggu. Pusat wisata edukasi kain sasirangan ada di Kampung Sasirangan, Kelurahan Seberang Mesjid, Jalan Seberang Masjid, Banjarmasin. Lokasinya persis di tepi Sungai Martapura dan gampang banget dijangkau dari pusat kota.

Sepanjang gang ini kamu bakal nemu belasan rumah perajin yang sekaligus jadi galeri. Pintunya kebanyakan kebuka, dan perajinnya santai aja kalau ada tamu yang berdiri lama ngeliatin mereka nyirang kain.
Buat pengalaman yang lebih lengkap, ikut paket workshop. Ini gambaran umumnya:
- Durasi: 2–4 jam, tergantung kainnya dikeringkan di tempat atau dibawa pulang basah.
- Harga: sekitar Rp75.000–Rp250.000 per orang, tergantung ukuran dan bahan kain (katun atau sutra) serta jenis pewarnanya.
- Yang kamu dapat: kain jadi hasil buatan sendiri, plus penjelasan langsung soal motif dan filosofinya.
Kalau kamu datang rombongan atau nggak mau ribet ngatur jadwal perajin sendiri, cara paling gampang adalah lewat platform marketplace seperti Kumbaya.id, di mana kamu bisa browse dan booking trip budaya dari berbagai penyelenggara terpercaya — lengkap dengan info jadwal, harga, dan ulasan peserta sebelumnya.
Selain Banjarmasin, kawasan pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) di Martapura, Kabupaten Banjar, juga punya deretan galeri sasirangan. Bonusnya, Martapura terkenal sebagai kota intan, jadi sekalian bisa lihat penggosokan batu permata.
Cara Bedain Kain Sasirangan Asli dan Printing biar Nggak Ketipu
Ini penting banget, apalagi kalau kamu belanja di toko oleh-oleh yang rame. Banyak kain bermotif sasirangan yang sebenarnya cuma tekstil printing pabrikan. Harganya bisa sepersepuluh, tapi ya bukan sasirangan asli.
Ciri sasirangan asli (jelujur tangan):
- Ada bekas lubang jarum jelujur yang khas di sepanjang batas motif. Raba pelan, kerasa.
- Warna menembus sampai ke sisi belakang kain — dua sisi warnanya sama.
- Garis motif sedikit nggak rata secara alami, karena hasil serutan tangan.
Ciri kain printing:
- Nggak ada bekas lubang jarum sama sekali.
- Bagian belakang kain cenderung putih atau warnanya jauh lebih pudar.
- Motifnya terlalu presisi, rapi, dan berulang konstan.
Trik paling cepat waktu beli kain sasirangan: balik kainnya. Kalau punggung kain putih polos, itu printing. Sesederhana itu.
Tips Merawat Kain Sasirangan biar Awet Bertahun-tahun
Sudah keluar duit buat sasirangan asli, jangan sampai rusak gara-gara salah cuci. Empat aturan ini cukup:
- Pakai sabun lembut. Sabun khusus batik atau buah lerak paling aman. Hindari deterjen keras dan pemutih.
- Jangan disikat, jangan diperas kuat. Cukup dikucek pelan lalu ditekan biar airnya keluar.
- Jemur di tempat teduh. Diangin-anginkan saja. Matahari langsung adalah musuh utama warna sasirangan.
- Setrika suhu sedang. Lapisi kain pelindung di atasnya kalau perlu, terutama buat bahan sutra.
Simpan kain sasirangan dengan cara digulung, bukan dilipat tajam, biar nggak muncul garis permanen di lipatannya.
Rute ke Banjarmasin dan Wisata yang Wajib Kamu Gabung
Pintu masuknya lewat Bandara Internasional Syamsudin Noor (BDJ) di Banjarbaru. Dari bandara ke pusat kota Banjarmasin sekitar 45–60 menit naik taksi bandara, travel, atau ojek online.

Karena kamu sudah jauh-jauh ke Kalimantan Selatan, sayang banget kalau cuma mampir Kampung Sasirangan. Gabungkan dengan empat destinasi ini:
- Pasar Terapung Lok Baintan — pasar tradisional di atas jukung. Datang pagi banget, jam 06.00–08.00 WITA, karena setelah itu bubar.
- Menara Pandang Banjarmasin — menara ikonik di tepi Sungai Martapura, dekat pusat kota. Bagus buat sunset.
- Pulau Kembang — pulau di tengah Sungai Barito yang dihuni kawanan kera ekor panjang. Jaga barang bawaan.
- Masjid Sultan Suriansyah — masjid tertua di Kalimantan Selatan, dibangun di era raja Banjar pertama yang memeluk Islam.
Kalau kamu punya waktu ekstra dan pengin sisi alam Kalimantan Selatan, lanjutkan ke Geopark Meratus dan bamboo rafting Loksado yang jaraknya sekitar 4 jam berkendara dari Banjarmasin.
Itinerary 3 Hari 2 Malam Berburu Kain Sasirangan di Banjarmasin
Biar nggak bingung nyusun jadwal, ini rangka itinerary yang realistis dan nggak bikin capek.
Hari 1 — Datang dan orientasi kota
Mendarat di Syamsudin Noor, check-in hotel di sekitar Jalan Lambung Mangkurat. Sore jalan kaki ke Menara Pandang buat lihat Sungai Martapura dari ketinggian. Malam kulineran soto banjar dan ketupat kandangan.
Hari 2 — Sungai pagi, kain siang
Bangun jam 05.00 buat susur sungai ke Pasar Terapung Lok Baintan. Balik ke kota sekitar jam 09.00, sarapan, lalu lanjut ke Kampung Sasirangan buat workshop sasirangan. Sisihkan 3–4 jam penuh di sini. Sore mampir Masjid Sultan Suriansyah yang searah.
Hari 3 — Belanja dan pulang
Pagi ke Martapura buat lihat penggosokan intan dan belanja sasirangan tambahan di kawasan CBS. Siang balik ke arah bandara — kebetulan Martapura searah dengan Syamsudin Noor, jadi hemat waktu.
Estimasi budget di luar tiket pesawat: sekitar Rp1,2–2 juta per orang untuk tiga hari, sudah termasuk penginapan menengah, susur sungai, workshop, dan makan. Pola trip singkat begini mirip dengan yang dibahas di panduan wisata membatik dan wisata edukasi gerabah Kasongan.
Pertanyaan yang Sering Muncul soal Kain Sasirangan
Apa bedanya kain sasirangan sama jumputan?
Keduanya sama-sama teknik rintang warna, tapi jumputan lebih banyak pakai ikatan tali dan simpul, sementara sasirangan wajib pakai jahitan jelujur yang ditarik kencang. Hasil garis motifnya pun beda karakter.
Kapan waktu terbaik ke Banjarmasin?
Musim kemarau, sekitar Mei sampai September, paling nyaman buat susur sungai. Kalau mau suasana ramai, incar Banjarmasin Sasirangan Festival yang biasanya digelar Pemerintah Kota Banjarmasin sekitar bulan Maret.
Anak-anak boleh ikut workshop?
Boleh banget, dan justru seru. Tahap menarik benang dan melepas jahitan aman buat anak. Tahap celup sebaiknya didampingi orang dewasa karena tangan bisa kena warna.
Berapa harga kain sasirangan asli di pasaran?
Kain katun ukuran dua meter biasanya mulai Rp150.000-an. Sutra dengan motif rumit bisa tembus jutaan rupiah. Kalau ada yang jual “sasirangan sutra” seharga Rp50.000, hampir pasti itu printing.
Apakah ada Hari Sasirangan Nasional?
Belum ada tanggal nasional resmi seperti Hari Batik. Peringatannya lebih melekat pada Banjarmasin Sasirangan Festival dan aturan daerah yang mewajibkan ASN serta pelajar memakai busana sasirangan di hari tertentu.
Pulang Bawa Cerita, Bukan Cuma Oleh-oleh
Yang bikin wisata sasirangan berkesan bukan cuma kainnya. Tapi momen waktu benang jelujur kamu lepas satu per satu, dan motif yang kamu bikin sendiri muncul pelan-pelan — sedikit berantakan, sedikit meleset dari rencana, tapi seratus persen punya kamu.
Selembar sasirangan yang kamu buat sendiri jauh lebih berarti daripada sepuluh lembar kain printing dari toko bandara. Dan setiap kali kamu pakai, kamu bawa cerita soal Sungai Martapura, ibu perajin yang sabar itu, dan legenda putri yang muncul dari buih.
Buat referensi tambahan, kamu bisa cek data resmi di portal Warisan Budaya Takbenda Kemendikbud atau baca rangkuman umumnya di Wikipedia. Tertarik kerajinan tradisional lain? Cek juga cerita soal tenun ikat Troso Jepara.
Mau ikut open trip budaya yang terorganisir dan aman? Temukan berbagai pilihan trip outdoor dan wisata edukasi di Kumbaya.id. Dan buat kamu penyelenggara trip, Kumbaya juga menyediakan platform untuk kelola trip, peserta, dan pembayaran online — semua dalam satu tempat.
Etika dan Tips Praktis Saat Berkunjung ke Rumah Perajin

Kampung Sasirangan itu kampung beneran, bukan taman wisata. Rumah perajin ya rumah tinggal mereka. Jadi ada beberapa hal yang sebaiknya kamu perhatikan biar kunjungan kamu menyenangkan buat dua pihak.
- Permisi dulu sebelum motret. Sebagian besar perajin santai aja difoto, tapi tetap izin lisan itu bentuk penghargaan paling dasar. Apalagi kalau kamu mau merekam prosesnya buat konten.
- Datang di jam kerja. Aktivitas paling ramai biasanya pagi sampai sore, sekitar jam 08.00–16.00 WITA. Kalau datang sore banget, banyak yang sudah beres-beres.
- Jangan cuma lihat lalu pergi. Kalau sudah nonton proses selama setengah jam, wajar banget kalau kamu beli sesuatu — sapu tangan kecil pun tetap berarti buat mereka.
- Nawar seperlunya. Menawar itu normal di Banjarmasin, tapi ingat harga yang kamu tawar itu upah kerja tangan berjam-jam. Nawar 70% dari harga awal itu bukan hemat, itu nyakitin.
- Pakai baju yang gampang kotor. Kalau ikut workshop, pewarna bisa nempel di tangan dan baju. Bawa baju ganti kalau habis itu langsung jalan ke tempat lain.
- Tanya, jangan sungkan. Perajin di sini umumnya senang cerita. Pertanyaan sesederhana “ini motif apa, Bu?” sering berujung obrolan panjang yang jauh lebih berkesan daripada foto apa pun.
Satu hal lagi soal waktu: jangan tergesa. Proses celup dan lepas jahitan butuh jeda, dan itu bagian dari pengalamannya. Alokasikan setengah hari penuh, bukan sekadar mampir satu jam antara dua destinasi.
Oleh-Oleh Lain yang Layak Masuk Koper dari Banjarmasin
Kalau kopermu masih lapang setelah belanja kain, Banjarmasin punya beberapa buah tangan lain yang sayang dilewatkan:
- Batu permata Martapura — dari intan sampai kecubung. Beli di sentra resmi dan minta surat keterangan kalau nilainya besar.
- Amplang — kerupuk ikan tenggiri khas Kalimantan yang gurih dan tahan lama. Aman buat dibawa terbang.
- Anyaman purun — tas dan tikar dari rumput purun rawa. Ringan, ramah lingkungan, dan motifnya cakep buat dipakai sehari-hari.
- Dodol kandangan dan wadai khas Banjar — cocok buat oleh-oleh kantor karena porsinya kecil-kecil.
Gabungan kain, anyaman purun, dan amplang biasanya sudah cukup buat mewakili Kalimantan Selatan tanpa bikin bagasi kelebihan.
