Bayangkan berdiri di geladak kapal kayu saat matahari baru menyembul di ufuk Laut Maluku. Air laut disemprot deras dari lambung kapal sampai permukaan tampak seperti diguyur hujan, ribuan ikan cakalang mengamuk di bawahnya, lalu belasan nelayan menarik joran bambu secara serempak. Ikan seberat lima kilogram melayang di udara dan mendarat mulus di palka. Inilah huhate, teknik menangkap tuna paling ikonik di Indonesia timur yang sudah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.
Di dunia internasional, huhate lebih dikenal sebagai pole and line. Bedanya, di Nusantara teknik ini bukan sekadar metode perikanan, melainkan sebuah tradisi kolektif yang melibatkan ritme, kepercayaan, dan gotong royong yang sangat kental. Menariknya lagi, cara menangkap ikan ini kini diakui sebagai salah satu yang paling ramah lingkungan di dunia. Buat kamu yang bosan dengan wisata bahari yang itu-itu saja, menyaksikan langsung praktik huhate bisa jadi pengalaman perjalanan paling berkesan sepanjang tahun ini.

Daftar Isi
Apa Itu Huhate? Teknik Mancing Warisan Nusantara
Secara sederhana, huhate adalah teknik penangkapan ikan cakalang dan tuna menggunakan joran atau tongkat pancing yang dioperasikan langsung oleh tangan manusia, satu joran untuk satu ikan. Tidak ada jaring raksasa, tidak ada alat berat. Yang ada hanya bambu, tali, mata pancing tanpa kait balik, dan tenaga belasan orang yang bergerak dalam satu irama.
Kapal yang dipakai biasanya berukuran 20 sampai 30 meter dengan haluan yang sengaja dibuat lebar dan rendah. Di bagian depan inilah para pemancing berdiri berjajar, kadang sampai lima belas orang sekaligus, menghadap laut lepas sambil menunggu aba-aba dari nakhoda.
Asal Usul Nama dan Sebarannya
Istilah huhate berasal dari bahasa daerah di kawasan Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Di beberapa daerah, orang menyebutnya funai atau pole and line saja. Jejak praktiknya tersebar luas mulai dari perairan Ternate, Tidore, Ambon, Pulau Buru, Seram, sampai ke Bitung dan Flores Timur.
Catatan kolonial abad ke-19 sudah menyebut armada pemancing cakalang di kawasan ini, yang artinya tradisi ini jauh lebih tua daripada industri perikanan modern mana pun di Indonesia. Sampai hari ini, ribuan keluarga pesisir masih menggantungkan hidup pada kapal-kapal kayu tersebut.
Kenapa Disebut Pole and Line
Nama pole and line merujuk langsung pada dua komponen utamanya: tongkat (pole) dan tali pancing (line). Panjang joran umumnya 2 sampai 3 meter, dibuat dari bambu pilihan yang lentur tapi kuat, kadang diganti fiberglass pada armada modern.
Yang membuat teknik ini istimewa adalah mata pancingnya yang tidak berkait balik alias barbless. Begitu ikan terangkat ke udara dan mendarat di geladak, ikan otomatis terlepas dari mata pancing tanpa perlu dilepas manual. Pemancing tinggal mengayunkan joran kembali ke laut untuk tarikan berikutnya. Efisiensinya luar biasa.

Sejarah Huhate dan Perannya bagi Ekonomi Pesisir
Jauh sebelum kapal bermesin masuk ke Nusantara, masyarakat pesisir Maluku sudah mengejar gerombolan cakalang dengan perahu layar dan dayung. Teknik huhate berkembang justru karena keterbatasan itu: tanpa mesin bertenaga besar, satu-satunya cara memanen ikan cepat dalam jumlah banyak adalah mengandalkan kerja serentak banyak tangan pada momen yang sangat singkat.
Kemampuan membaca laut ini satu rumpun dengan keahlian pembuatan kapal kayu Nusantara. Kalau kamu pernah membaca soal perahu pinisi Bulukumba, polanya serupa: pengetahuan diwariskan lisan dari ayah ke anak, tanpa cetak biru, tanpa sekolah formal, tapi presisinya teruji puluhan tahun di laut lepas.
Dari sisi ekonomi, satu kapal huhate menghidupi 15 sampai 30 keluarga sekaligus. Angka itu belum menghitung pekerja darat: pemasok es, tukang bongkar, penyortir, pengasap ikan, sampai pedagang di pasar. Karena itu, ketika satu armada berhenti melaut, dampaknya langsung terasa di seluruh kampung, bukan hanya pada pemilik kapal.
Sistem bagi hasilnya pun menarik. Alih-alih upah tetap, hasil tangkapan dibagi berdasarkan porsi yang sudah disepakati antara pemilik kapal, nakhoda, dan awak. Semakin banyak tangkapan, semakin besar bagian setiap orang. Model ini membuat semua awak punya kepentingan langsung terhadap keberhasilan setiap trip, sekaligus menjelaskan kenapa disiplin kerja di atas kapal begitu ketat tanpa perlu pengawasan berlebihan.
Cara Kerja Huhate: Dari Umpan Hidup sampai Tarikan Serempak
Proses huhate jauh lebih rumit daripada yang terlihat di video-video viral media sosial. Satu trip melaut bisa memakan waktu tiga hari sampai dua minggu, dan hampir separuh waktunya justru dihabiskan bukan untuk memancing.
Berburu Umpan Hidup Dulu
Sebelum mengejar cakalang, kapal wajib mengumpulkan umpan hidup berupa ikan teri, japuh, atau puri. Umpan ini ditangkap malam hari dengan bantuan lampu di perairan dangkal, lalu disimpan hidup-hidup di bak khusus bersirkulasi air laut. Tanpa umpan hidup yang segar, seluruh operasi tidak akan berjalan.
Inilah kenapa nelayan sangat menjaga kawasan pembibitan umpan. Rusaknya terumbu karang atau mangrove di satu teluk bisa melumpuhkan armada satu kampung. Kepedulian ekologis di sini lahir dari kebutuhan praktis, bukan dari kampanye lingkungan.
Peran Nakhoda dan Awak Kapal
Nakhoda bertugas membaca tanda-tanda alam: kawanan burung yang berputar, riak air yang berbeda, sampai keberadaan rumpon atau benda mengapung yang biasanya dikerumuni ikan. Ketika gerombolan cakalang ditemukan, seluruh awak bergerak ke posisi masing-masing dalam hitungan detik.
Ada awak yang bertugas menebar umpan hidup, ada yang mengoperasikan penyemprot air, dan sisanya memegang joran. Pembagian tugas dalam praktik huhate tidak pernah ditulis, tapi semua orang tahu persis apa yang harus dilakukan.
Semprotan Air dan Tarikan Serempak
Penyemprot air di sisi lambung dinyalakan untuk mengaburkan pandangan ikan sekaligus menyamarkan bayangan kapal. Ikan mengira ada gerombolan umpan besar sedang berlarian di permukaan, lalu naik ke permukaan dalam kondisi sangat agresif dan menyambar apa pun yang bergerak.
Saat itulah belasan joran diayunkan bersamaan. Ritmenya seperti tarian: tarik, ayun ke belakang, lepas, lempar lagi. Dalam kondisi ideal, satu kapal bisa mengangkat lebih dari satu ton cakalang hanya dalam waktu setengah jam. Suara ikan berdebum di geladak bercampur teriakan aba-aba menjadi pengalaman audio yang sulit dilupakan.
Kenapa Metode Ini Jadi Simbol Perikanan Berkelanjutan
Di tengah krisis penangkapan ikan berlebih secara global, teknik tradisional Indonesia ini justru mendapat panggung internasional. Alasannya sangat teknis dan mudah diverifikasi.
Nyaris Tanpa Tangkapan Sampingan
Karena satu joran hanya menarik satu ikan, praktis tidak ada bycatch alias tangkapan sampingan. Penyu, lumba-lumba, hiu, dan ikan-ikan kecil yang belum layak tangkap tidak ikut terjaring. Bandingkan dengan pukat cincin besar yang bisa menyapu seluruh isi kolom air tanpa pandang bulu.
Selain itu, huhate secara alami menyeleksi ukuran. Ikan yang terlalu kecil tidak akan sanggup menyambar umpan berukuran dewasa, sementara ikan yang terlalu besar tidak mungkin diangkat dengan tenaga tangan. Populasi induk dan anakan sama-sama terlindungi.
Sertifikasi dan Nilai di Pasar Global
Sejumlah armada di Maluku dan Sulawesi Utara kini mengantongi sertifikasi keberlanjutan internasional, termasuk dari Marine Stewardship Council. Produk tuna berlabel pole and line caught dihargai jauh lebih tinggi di pasar Eropa dan Amerika dibanding tuna hasil tangkapan konvensional.
Artinya, tradisi yang sempat dianggap kuno ini justru menjadi keunggulan kompetitif. Nelayan mendapat harga lebih baik, laut tetap lestari, dan konsumen dunia mendapat produk yang bisa ditelusuri asal-usulnya.

Daerah Terbaik Menyaksikan Tradisi Huhate
Tidak semua pelabuhan perikanan punya armada joran. Kalau tujuan utamamu memang menyaksikan praktik ini dari dekat, tiga kawasan berikut adalah pilihan paling solid.
Bitung, Sulawesi Utara
Bitung adalah basis armada terbesar sekaligus pusat industri pengolahan cakalang nasional. Dari Manado, perjalanan darat hanya sekitar satu setengah jam. Aktivitas pelabuhan paling hidup pada dini hari sampai pukul sembilan pagi, saat kapal-kapal merapat membawa hasil semalam.
Keuntungan lain, Bitung berdekatan dengan Selat Lembeh yang termasyhur di kalangan penyelam. Kamu bisa menggabungkan kunjungan pelabuhan dengan agenda menyelam tanpa harus pindah kota.
Ambon, Buru, dan Seram
Kawasan Maluku adalah jantung sejarah teknik ini. Di Pulau Buru dan pesisir Seram, kapal-kapal kayu masih dibuat secara tradisional oleh tukang setempat. Suasananya jauh lebih otentik dan tidak seramai Bitung, meski akses transportasinya menuntut perencanaan lebih matang.
Kalau kamu tertarik pada budaya maritim yang lebih luas, kawasan ini juga kaya akan ritual laut. Nuansanya mirip dengan tradisi sedekah laut di pesisir Jawa, tapi dengan tata cara yang khas Maluku.
Larantuka dan Flores Timur
Perairan Flores Timur punya armada joran skala menengah dengan pemandangan latar yang luar biasa: deretan gunung api dan selat berarus deras. Kombinasi wisata budaya, pantai, dan aktivitas perikanan membuat kawasan ini cocok untuk perjalanan seminggu penuh.

Pengalaman Wisata Bahari Huhate yang Bisa Kamu Coba
Menyaksikan tradisi ini tidak melulu berarti ikut melaut berhari-hari. Ada beberapa level pengalaman yang bisa dipilih sesuai waktu, budget, dan ketahanan fisikmu.
Ikut Melaut Bersama Nelayan
Ini opsi paling intens. Beberapa koperasi nelayan membuka kesempatan bagi tamu untuk ikut trip pendek satu hari penuh. Kamu berangkat sebelum subuh dan kembali sore hari. Perlu diingat, kapal huhate bukan kapal wisata, jadi tidak ada kabin ber-AC apalagi kamar mandi yang nyaman.
Mengurus izin melaut sendiri bisa merepotkan karena menyangkut asuransi dan koordinasi dengan pemilik kapal. Salah satu cara termudah adalah lewat platform marketplace seperti Kumbaya.id, di mana kamu bisa menelusuri dan memesan langsung trip bahari dari berbagai penyelenggara terpercaya, lengkap dengan info jadwal, harga, serta ulasan peserta sebelumnya.
Menyusuri Tempat Pelelangan Ikan
Kalau tidak sempat melaut, datang saja ke tempat pelelangan ikan saat kapal merapat. Di sini kamu bisa melihat cakalang segar hasil huhate disortir berdasarkan ukuran, ditimbang, lalu dilelang dengan sistem tawar cepat yang seru untuk diamati.
Datanglah sekitar pukul lima pagi. Bawa alas kaki tertutup yang tidak licin, karena lantai pelelangan selalu basah dan penuh es serpih. Jangan lupa minta izin sebelum memotret dari jarak dekat.
Menginap di Kampung Nelayan
Opsi yang makin diminati adalah menginap satu atau dua malam di rumah warga di kampung nelayan. Kamu bisa ikut menyaksikan persiapan melaut sejak sore, mendengar cerita para awak soal musim tangkapan, lalu bangun dini hari untuk melihat kapal berangkat dari dermaga.
Pengalaman semacam ini memberi konteks yang tidak akan kamu dapat dari kunjungan singkat. Kamu jadi paham bahwa huhate bukan atraksi wisata, melainkan pekerjaan sehari-hari yang menentukan periuk nasi banyak keluarga. Tarif menginap umumnya sangat terjangkau dan sudah termasuk makan dengan lauk ikan segar.
Wisata Kuliner Cakalang
Pengalaman belum lengkap tanpa mencicipi hasil tangkapannya. Cakalang fufu, yaitu ikan yang diasap dan dijepit bambu, adalah ikon kuliner Manado. Ada pula cakalang garo rica dan sambal roa yang cocok dijadikan oleh-oleh tahan lama.

Persiapan Sebelum Ikut Trip
Trip perikanan berbeda jauh dari trip pantai biasa. Beberapa persiapan berikut wajib kamu perhatikan supaya pengalamannya menyenangkan, bukan menyiksa.
Fisik dan Antisipasi Mabuk Laut
Ombak di laut lepas kawasan timur Indonesia tergolong tinggi, terutama di luar musim teduh. Minum obat antimabuk sekitar satu jam sebelum berangkat, hindari perut kosong, dan usahakan tetap berada di geladak terbuka dengan pandangan ke garis cakrawala.
Kalau kamu punya riwayat vertigo atau masalah jantung, pertimbangkan opsi wisata darat saja. Kapal berada jauh dari fasilitas medis dan tidak bisa berputar arah dengan cepat.
Barang Wajib Dibawa
- Tabir surya SPF tinggi dan topi bertali, karena tidak ada tempat berteduh di haluan
- Jaket antiangin yang cepat kering
- Air minum minimal dua liter per orang
- Dry bag untuk melindungi ponsel dan kamera dari cipratan air asin
- Sepatu karet bersol kasar, jangan sandal jepit
- Uang tunai secukupnya karena sinyal dan mesin pembayaran sering tidak tersedia
Etika dan Adab di Atas Kapal
Ini poin yang sering dilupakan wisatawan. Jangan pernah berdiri di area kerja pemancing saat gerombolan ikan muncul, karena joran diayunkan sangat cepat dan bisa melukai. Selalu minta izin sebelum memotret wajah awak kapal, dan hormati pantangan lokal yang mungkin berlaku di kapal tertentu.

Tips Memotret Momen Huhate Tanpa Mengganggu
Buat pemburu foto, momen tarikan serempak adalah materi visual kelas dunia. Tapi kondisi pemotretannya tergolong sulit: kapal bergoyang, cahaya keras, dan air asin beterbangan ke segala arah.
Gunakan kecepatan rana minimal 1/1000 detik untuk membekukan ikan yang melayang di udara. Setel kamera ke mode burst dan fokus kontinu, karena momen terbaik hanya berlangsung sepersekian detik. Lensa zoom serbaguna lebih praktis daripada lensa tetap, sebab kamu tidak punya ruang untuk bergerak maju-mundur di geladak yang padat.
Lindungi peralatan dengan sarung tahan air, dan bawa kain mikrofiber lebih dari satu untuk mengelap percikan garam yang cepat mengering di elemen lensa. Untuk hasil paling dramatis, ambil posisi rendah menghadap haluan saat cahaya pagi masih hangat.
Satu hal yang paling penting: prioritaskan keselamatan dan kenyamanan awak di atas foto bagus. Jangan pernah meminta nelayan mengulang gerakan demi kebutuhan konten, karena setiap detik di tengah gerombolan ikan sangat berharga bagi mereka.
Waktu Terbaik dan Estimasi Biaya
Musim melaut paling ramai berlangsung sekitar April sampai Oktober, ketika angin relatif bersahabat dan gerombolan cakalang melimpah. Di luar periode itu, cuaca sering membuat kapal memilih bersandar.
Untuk anggaran, kunjungan ke pelabuhan dan pelelangan praktis gratis, hanya butuh ongkos transportasi lokal. Trip ikut melaut satu hari umumnya berkisar antara tiga ratus ribu hingga satu juta rupiah per orang, tergantung ukuran kapal dan jumlah peserta. Paket kombinasi yang mencakup penginapan dan wisata kuliner biasanya dibanderol lebih tinggi.
Kalau ini pertama kalinya kamu berwisata bahari di Indonesia timur, ada baiknya membaca dulu panduan wisata kapal perintis supaya kamu punya gambaran soal ritme perjalanan laut di kawasan tersebut.
Rute dan Akses Menuju Lokasi
Pintu masuk termudah adalah Manado. Bandara Sam Ratulangi dilayani penerbangan langsung dari Jakarta, Surabaya, dan Makassar setiap hari. Dari bandara, angkutan darat menuju Bitung memakan waktu sekitar satu setengah jam dengan tarif taksi daring yang masih masuk akal.
Untuk kawasan Maluku, jalur paling umum adalah terbang ke Ambon melalui Makassar. Dari Ambon, perjalanan ke Pulau Buru atau pesisir Seram dilanjutkan dengan kapal cepat maupun feri, dengan jadwal yang sangat bergantung pada cuaca. Selalu sediakan satu hari cadangan dalam rencana perjalanan supaya tidak panik ketika penyeberangan dibatalkan mendadak.
Sementara itu, Flores Timur dijangkau lewat Bandara Gewayantana di Larantuka, atau lewat jalur darat dari Maumere yang menempuh sekitar empat jam dengan pemandangan pesisir yang cantik sepanjang jalan.
Soal akomodasi, Bitung dan Manado punya banyak pilihan hotel berbagai kelas. Di kawasan yang lebih terpencil, pilihannya biasanya berupa penginapan sederhana atau rumah warga. Pesan jauh hari kalau kamu datang pada musim puncak liburan, sebab kamar layak di kota-kota kecil ini jumlahnya terbatas.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah huhate aman untuk pemula? Aman selama kamu mengikuti arahan awak kapal dan tidak berada di area kerja saat proses penangkapan berlangsung. Anak di bawah dua belas tahun sebaiknya tidak diajak.
Bisakah wisatawan ikut memancing? Di sebagian trip, tamu diperbolehkan mencoba beberapa tarikan setelah gerombolan ikan mereda. Namun jangan berharap banyak, karena tenaga yang dibutuhkan cukup besar dan teknik ayunannya butuh latihan bertahun-tahun.
Apa bedanya dengan memancing tuna rekreasi? Memancing rekreasi berorientasi pada tantangan personal dan sering menerapkan sistem lepas kembali. Huhate adalah aktivitas produksi pangan komersial yang dikerjakan secara kolektif dengan target volume tertentu.
Apakah tradisi ini terancam punah? Tekanannya nyata, terutama dari biaya bahan bakar dan kelangkaan umpan hidup. Namun permintaan pasar global terhadap tuna bersertifikat justru memberi napas baru bagi armada tradisional.
Perlukah izin khusus untuk ikut melaut? Umumnya cukup kesepakatan dengan pemilik kapal dan pendataan identitas oleh syahbandar setempat. Penyelenggara trip resmi biasanya sudah mengurus bagian ini sekaligus menyediakan asuransi perjalanan.
Apakah ada aktivitas serupa di daerah lain? Ada beberapa variasi teknik pancing tradisional di pesisir Nusantara, tapi skala kolektif dan ritme kerja seperti pada huhate memang paling khas ditemui di Indonesia bagian timur.
Saatnya Melihat Sendiri
Huhate adalah bukti bahwa kearifan lokal dan keberlanjutan bukan dua hal yang bertentangan. Di saat dunia sibuk mencari cara menangkap ikan tanpa merusak laut, nelayan Indonesia timur sudah mempraktikkannya sejak berabad-abad lalu dengan bambu, tali, dan kerja sama.
Melihat langsung tarikan serempak di haluan kapal saat matahari terbit adalah pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh video mana pun. Sisihkan satu pagi dalam agenda perjalananmu berikutnya ke Sulawesi Utara atau Maluku, dan rasakan sendiri energinya.
Mau ikut open trip yang terorganisir dan aman? Temukan berbagai pilihan trip outdoor dan bahari di Kumbaya.id. Dan buat kamu penyelenggara trip, Kumbaya juga menyediakan platform untuk kelola trip, peserta, dan pembayaran online, semua dalam satu tempat.


































