Home TravelingHutan De Djawatan Banyuwangi: Pesona Pohon Kuno Mirip Dunia Fantasi

Hutan De Djawatan Banyuwangi: Pesona Pohon Kuno Mirip Dunia Fantasi

by adminkumbaya

Hutan De Djawatan jadi salah satu destinasi paling dicari pelancong Indonesia di 2026. Pohon trembesi berumur ratusan tahun, akar gantung berlumut, dan kabut tipis di pagi hari bikin tempat ini dijuluki “Lord of the Rings versi Jawa Timur”. Buat kamu yang lagi cari wisata alam estetik, low-budget, dan Instagramable di Banyuwangi, panduan hutan de djawatan lengkap ini wajib dibaca sebelum berangkat.

Hutan De Djawatan pohon trembesi raksasa Banyuwangi
Pohon trembesi raksasa berlumut khas Hutan De Djawatan. Sumber: Pexels

Kenapa Hutan De Djawatan Begitu Viral?

Daya tarik utama hutan de djawatan ada di koleksi pohon trembesi (Samanea saman) berusia 100–150 tahun. Tingginya bisa lebih dari 25 meter, dengan cabang menjuntai dipenuhi lumut hijau dan tanaman epifit. Saat sinar matahari menerobos di antara dedaunan, suasananya benar-benar mirip hutan Fangorn di film The Lord of the Rings.

Awalnya kawasan ini adalah tempat penyimpanan kayu jati milik Perhutani sejak era kolonial Belanda. Sejak dibuka untuk publik dan viral di TikTok serta Instagram, jumlah pengunjung naik drastis — terutama di akhir pekan dan musim liburan sekolah.

Apa yang Bikin Beda dari Hutan Lain?

  • Lumut alami menyelimuti hampir setiap batang pohon.
  • Tata letak pohon yang simetris — sisa pola tanam kolonial.
  • Suasana cool & shaded meski siang hari, suhu 4–6°C lebih dingin daripada luar hutan.
  • Akses gampang dari pusat Kota Banyuwangi (cuma sekitar 30 km).

Lokasi & Rute Menuju Hutan De Djawatan

Hutan ini berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Jarak dari pusat kota Banyuwangi sekitar 35 km ke arah selatan, dan dari Pelabuhan Ketapang sekitar 45 km.

Rute dari Bandara Banyuwangi (BWX)

  1. Keluar bandara, ambil Jl. Raya Jember menuju arah selatan.
  2. Lewati Rogojampi, Srono, lalu Cluring.
  3. Sebelum pertigaan Benculuk, ada papan petunjuk “De Djawatan” di sisi kiri.
  4. Total waktu tempuh: 50–60 menit dengan mobil/motor.

Rute dari Surabaya

Pakai jalur Pantura via Pasuruan–Probolinggo–Situbondo. Total sekitar 7–8 jam berkendara. Alternatif lebih cepat: naik kereta Mutiara Timur ke Stasiun Karangasem, lanjut sewa motor ke hutan de djawatan sekitar 1 jam.

Suasana hutan trembesi berlumut Hutan De Djawatan Banyuwangi
Suasana hutan berlumut yang dijuluki Lord of the Rings versi Indonesia. Sumber: Pexels

Harga Tiket, Jam Buka & Fasilitas Hutan De Djawatan

Salah satu alasan hutan de djawatan ramah kantong adalah harga tiketnya yang super murah dibanding wisata alam viral lainnya.

  • Tiket masuk: Rp 10.000 (weekday) / Rp 15.000 (weekend) per orang.
  • Parkir motor: Rp 3.000 — Parkir mobil: Rp 5.000.
  • Jam buka: 07.00 – 17.00 WIB setiap hari.
  • Naik delman/andong: Rp 30.000 untuk muter 1 putaran (cocok buat foto).

Fasilitas yang Tersedia

  • Toilet bersih, mushola, area parkir luas.
  • Warung makan tradisional (rujak soto, nasi tempong, kopi lokal).
  • Spot piknik beralas rumput.
  • Penyewaan kostum bertema (jubah, gaun) untuk foto cosplay.

Spot Foto Ikonik di Hutan De Djawatan

Buat para content creator, ini surga. Datang pagi (07.00–09.00) atau sore (15.30–17.00) untuk dapat golden hour dan kabut tipis yang bikin foto makin dramatis.

1. Lorong Trembesi Utama

Jalur paling ikonik. Pohon-pohon berderet membentuk terowongan alami. Wajib pakai outfit warna earth tone (hijau, cokelat, beige) biar nyatu sama suasana.

2. Spot Akar Gantung

Akar-akar pohon yang menjuntai sampai ke tanah jadi frame alami buat foto. Pakai lensa wide 16–24mm biar pohonnya kelihatan megah.

3. Naik Andong di Tengah Hutan

Andong kayu klasik melaju pelan di antara pepohonan. Spot ini bikin foto hutan de djawatan kamu beda dari yang lain karena ada elemen motion.

Pohon trembesi besar dengan cabang menjuntai di hutan tropis
Pohon trembesi raksasa cocok jadi backdrop foto fantasy. Sumber: Pexels

Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan

Selain foto-foto, ada beberapa aktivitas yang sayang dilewatkan saat di Hutan De Djawatan:

  • Forest bathing — duduk diam 15–20 menit di tengah hutan untuk menurunkan stres (terbukti secara ilmiah, lihat riset di NIH/PubMed).
  • Naik andong Rp 30.000 — pengalaman vintage dan dapat tour singkat sejarah hutan.
  • Piknik keluarga — bawa tikar, snack, lalu nikmati suasana sejuk.
  • Cosplay foto — banyak yang dandan ala karakter Hobbit, Elf, atau pengantin pre-wedding.
  • Birdwatching — di pagi hari kamu bisa lihat burung lokal seperti cucak ijo, perkutut, dan kutilang.

Tips Anti Gagal Buat Pertama Kali Datang

Banyak pelancong kecewa karena salah jam atau salah outfit. Berikut tips supaya kunjungan kamu ke hutan de djawatan maksimal:

  1. Datang sebelum jam 08.00 atau setelah 15.30 — hindari panas siang dan rombongan rame.
  2. Hindari hari Sabtu kalau bisa, antri foto bisa setengah jam.
  3. Outfit warna soft (sage, mocha, ivory) lebih estetik daripada warna ngejreng.
  4. Bawa lotion anti nyamuk — hutan rimbun = nyamuk siap menyerang.
  5. Pakai sepatu tertutup — tanahnya kadang lembap dan licin habis hujan.
  6. Siapkan cash kecil — banyak warung dan penyewaan andong belum terima QRIS.
  7. Jangan injak akar atau memanjat pohon — banyak akar yang rapuh dan sudah dilindungi.

Kombinasi Itinerary Banyuwangi 3 Hari + Hutan De Djawatan

Karena letaknya strategis, hutan de djawatan mudah dikombinasikan dengan destinasi lain di Banyuwangi. Berikut contoh itinerary 3 hari 2 malam:

Hari 1 — Banyuwangi Selatan

  • Pagi: Hutan De Djawatan (foto + andong).
  • Siang: Makan nasi tempong khas Banyuwangi.
  • Sore: Pantai Pulau Merah, surfing pemula.

Hari 2 — Ijen Crater

  • Tengah malam: trekking ke Kawah Ijen lihat blue fire.
  • Pagi: turun lalu istirahat di penginapan.
  • Sore: jalan-jalan di kampung kopi Kemiren.

Hari 3 — Pulang via Ketapang

  • Pagi: sarapan rujak soto.
  • Siang: belanja oleh-oleh (sale pisang, kopi Osing).
  • Sore: ferry ke Bali atau balik via Bandara BWX.

Mau panduan rinci ke destinasi pendukung? Baca juga artikel kami di blog Kumbaya tentang tips traveling hemat, panduan wisata alam Indonesia, dan destinasi sejuk anti stres 2026.

Hutan tropis lebat dengan kanopi pohon trembesi mirip suasana De Djawatan
Kanopi pohon trembesi raksasa di hutan tropis. Sumber: Pexels

FAQ Hutan De Djawatan

Apakah hutan de djawatan ramah anak?

Sangat ramah. Jalan setapaknya rata, ada warung, toilet, dan andong. Cocok untuk wisata keluarga.

Bolehkah pre-wedding di sini?

Boleh. Tarif khusus pre-wedding sekitar Rp 350.000–500.000, harus daftar di loket sebelum sesi foto.

Musim terbaik datang ke Hutan De Djawatan?

April–Oktober (musim kemarau). Hindari Desember–Februari karena tanah becek dan lumut bisa terlalu lembap.

Apakah ada penginapan dekat hutan?

Ada beberapa homestay di Desa Benculuk mulai Rp 150.000/malam. Kalau cari hotel berbintang, harus ke pusat kota Banyuwangi (35 km).

Bisa naik motor masuk hutan?

Tidak. Motor wajib parkir di pintu masuk. Dalam hutan hanya boleh jalan kaki atau naik andong, demi menjaga kelestarian pohon.

Kesimpulan: Layakkah Mampir ke Hutan De Djawatan?

Buat kamu yang mencari wisata alam unik, murah, dan beda dari mainstream pantai-pantai Bali, hutan de djawatan wajib masuk bucket list 2026. Suasananya magis, foto pasti dapet, dan masih jadi destinasi yang belum sepadat Ubud atau Malioboro. Datang pagi, bawa kamera, dan siap-siap takjub sama pohon-pohon berusia ratusan tahun yang masih berdiri kokoh.

Sudah siap berangkat? Simpan panduan ini, share ke teman travel kamu, dan jangan lupa baca tips packing ringan serta rekomendasi destinasi wisata alam Indonesia lainnya di Kumbaya. Untuk info resmi seputar Banyuwangi, cek juga situs pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Selamat menjelajah!

You may also like

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.